Saturday , February 22 2020
Home / Artikel / PKS Mencerdaskan

PKS Mencerdaskan

Oleh : Amrullah Aviv

Menuju gelombang demokratisasi ketiga – mengutip istilah Samuel P. Huntington, perubahan paradigma politik (politic paradgm) di masyarakat menjadi suatu keniscayaan. Gelombang demokratisasi ketiga menekankan bahwa dalam negara yang sedang membangun demokrasi, peran masyarakat sebagai stake holder tidak bisa diabaikan.

Pengabaian peran masyarakat justru mengabaikan demokrasi itu sendiri dengan segala derivasi maknanya. Peran yang dimaksud dalam hal ini tentu tidak akan terwujud tatkala masyarakat tidak memiliki kebebasan dan kecukupan pengetahuan tentang hakekat demokrasi. Maka, konsekuensi dari semua ini adalah bahwa masyarakat yang cerdas politik justru menjadi suatu persoalan yang fundamental dalam proses membangun demokratisasi. Cerdas politik sangat erat kaitannya dengan pendidikan dan partispasi politik. 

Pertanyaan mendasar dalam konteks ini adalah apakah pendidikan dan partispasi politik sudah berlangsung saat ini ? di negara-negara demokrastis pemikiran yang mendasari konsep partisipasi politik ialah bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat, yang melaksanakannya melalui kegiatan bersama untuk menetapkan tujuan-tujuan serta masa depan masyarakat itu dan untuk menentukan orang-orang yang akan memegang tampuk pimpinan untuk masa berikutnya. 

Jadi partisipasi politik merupakan suatu pengejawantahan dari penyelenggaraan kekuasaan politik yang absah oleh rakyat.Partisipasi politik sebagai dikatakan oleh Herbert McClosky (1972) merupakan kegiatan-kegiatan sukarela dari warga masyarakat melalui mana mereka mengambil bagian dalam proses pemilihan penguasa, dan secara langsung atau tidak langsung, dalam proses pembentukan kebijakan umum. 

Dalam konteks ini ada dua point penting yang harus di cermati; sukarela dan ambil bagian. Sukarela berarti masyarakat secara sadar dari hati nuraninya tanpa ada paksaan dan intimidasi dari pihak manapun untuk melakukan sesuatu. Sedangkan ambil bagian berarti ikut andil dengan segala kesadarannya untuk memberikan kontribusi bagi suatu proses yang berlangsung. 

Gabungan dari kedua hal inilah suatu masyarakat dapat dikatakan sebagai masyarakat yang cerdas politik.Dalam konteks kekinian terutama melihat realitas masyarakat Indonesia, secara sengaja atau tidak bahwa kedua point diatas sulit untuk dapat digabungkan menjadi suatu yang di sebut cerdas politik. 

Diakui bahwa kebanyakan masyarakat Indonesia hanya memiliki satu poin kalau tidak dikatakan tidak punya keduanya. Ada masyarakat yang punya kesukarelaan namun tidak punya andil dalam politik. Sementara yang lain memiliki andil dalam politik namun tidak memiliki kesukarelaan. Sebagian kecil yang lain ada yang tidak memiliki kedua-duanya.

Realitas ini menunjukkan bahwa peran-peran pendidikan politik masyarakat tidak mendapatkan porsi yang seimbang ditengah-tengah kehidupan demokrasi. Tentu juga sangat tidak arif menyalahkan lemahnya partisipasi masyarakat terhadap politik, yang berujung pada ketidakcerdasan dalam memainkan peran politik. 

Tetapi yang sesungguhnya terjadi adalah bahwa ternyata realitas partai politik dan politisinya justru memanfaatkan situasi dan kondisi ini untuk melakukan ekploitasi politik demi kepentingan mereka. Karena bagi mereka ketika masyarakat ‘melek’ politik, maka tentu mereka kehilangan konstituennya.

——————————————–
Inilah yang harus turut serta PKS menjawabnya, sebagai partai politik tentunya PKS memiliki ugsi ini. Fungsi Sosialisasi politik, merupakan suatu cara untuk memperkenalkan nilai-nilai politik, sikap-sikap dan etika politik yangberlaku atau yang dianut oleh suatu negara. Pem­bentukan sikap-sikap politik atau dengan kata lain untuk membentuk suatu sikap dan keyakinan politik dibutuhkan waktu yang panjang melalui proses yang berlangsung tan­pa henti.
Berbagai kesimpulan yang diambil dari kajian kong­ruensi janji politik dengan produk kebijakan tidak terlepas dari faktor perilaku pemilih di Indonesia. Sebab dengan melihat pola perilaku pemilih kita bisa melihat apakah pa­ra pemilih sendiri memang benar-benar memilih parpol tertentu berdasarkan manifesto partai atau sekedar keter­kaitan emosional belaka. Tindakan atau keputusan politik seorang pemilih ditentukan oleh perilaku, sikap dan per­sepsi politik.

Sosialisasi politik sebagai salah satu fungsi partai po­litik ini tentu memiliki target kongkrit tertentu. Target pa­ling tinggi dari dijalankannya fungsi sosialisasi politik ini akan banvak sekali ragamnya kalau diuraikan satu persatu. Namun di sisi ini kita melihat dalam konteks Indonesia persoalan yangcukup pelik adalah tentang perilaku pemilih yang masih sangat terbe­lakang. 

Perilaku pemilih yang masih emosional dan tradi­sional ini tentu akan menghasilkan lembaga-lembaga dan inprastruktur politik yang tradisional pula. Sehingga sesungguhnya output dari sosialisasi politik itu harus dapat memperbarui konstruksi perilaku politik masyarakat dalam memilih.

PKS sebagai partai yang kuat dalam pengkaderan dan mayoritas diisi oleh anak muda terdidik tentunya sangat memiliki potensi besar untuk memberikan peranan dalam melakukan pendidikan politik, melakukan fungsi sosialisasi politik sebuah partai.PKS harus mengambil peran besar untuk MenCerdaskan.

Sumber :
http://polhukam.kompasiana.com/politik/2013/03/20/2/543909/pks-mencerdaskan-.html

About pkskabbogor

Check Also

(ikhwan) jaman now

[sebuah renungan] pksbogor.id — Celana jeans dipadu kaos berkerah merk terkenal, rambut klimis tertata rapih, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.