Tuesday , August 14 2018
Home / Artikel / PKS: Sebuah Perjalanan Panjang

PKS: Sebuah Perjalanan Panjang

by Anak Kader PKS | Kompasiana

Hati saya maju mundur membuat akun (kompasiana) ini. Lakukan, tidak. Lakukan, tidak. Sampaikan, tidak. Sampaikan, tidak.

Saya tak setegar orang tua, yang tetap berjuang meskipun wadah yang dicintainya kini sedang diserang pisau-pisau tajam dari luar. Saya tak se-membara orang tua, untuk berapi-api berjuang dalam jalan yang mereka sebut dakwah.
Lahir pada tahun 1991, sejak kecil saya telah diakrabi dengan kegiatan orangtua yang disebut dakwah. “Abi (ayah) ke mana?” “Dakwah, sayang. Abi sedang berjuang untuk dakwah.”
Hingga saat ini rumah saya terkenal kosong dari jam 6 pagi – 5 sore. Dulu saat dakwah itu belum lahir menjadi sebuah wadah bernama Partai Keadilan, saat-saat rumah yang kosong itu pun tidak dapat dipastikan.
Abi yang senantiasa ke luar kota untuk menyebarkan semangat ber-Islam, pulang dengan motor otok-otoknya yang selalu kami tunggu. Kami tunggu abi pulang. Karena sebelum tidur, abi punya hutang. Membacakan kisah para Nabi & para shahabatnya kepada saya dan adik-adik.
Di subuh hari, rumah kami penuh kicauan. Al-Qur’an. Kadang kala sampai jam 6. Tidak boleh berangkat sekolah kalau target bacaannya hari ini belum tercapai.
Kami bukan keluarga kaya. Bahkan kalau boleh dibilang tak punya. Semua uang yang dihasilkan Abi & Umi digunakan untuk menyekolahkan saya dan adik-adik. Sempat les bahasa arab juga, namun terhenti karena kebutuhan saya & adik-adik akan buku. Setiap minggu bisa 6-10 buku abi belikan dari toko buku bekas untuk kami.
Kami bukan keluarga kaya. Tapi masih dikorbankan Abi untuk berdakwah ke luar kota yang berjarak 7-8 jam dari rumah dengan sepeda motor. Biaya sendiri, hanya untuk sebuah pertemuan yang tak lebih dari 3 jam. Pertemuan yang hingga saat ini bagi saya menjadi suplemen mingguan. Pertemuan yang saya sebut lingkaran cinta, karena rasa akrab dan cinta yang tak dapat saya temukan di mana pun juga.
Itu dilakukan abi terus dan menerus. Seminggu bisa 3-4 kali yang namanya berdakwah. Sampai-sampai rasanya kami terabaikan. Hanya bertemu abi di Subuh dan malam sebelum tidur. Padahal menghasilkan uang lebih juga tidak.
Umi (Ibu) pun sama. Kegiatan berputar antara rumah, kerja, dan dakwah. Ada masa ketika wanita-wanita berwajah teduh memenuhi rumah kami dengan kicauan Al-Qur’an dan tawa lembut. Kemudian ketika saya atau adik mengintip melalui gorden, mereka tersenyum, membujuk kami keluar ke ruang tamu yang sesak. Dipeluk, digendong, disayang.. Ah, memiliki Umi yang berdakwah tak pernah seindah ini.
Tapi juga ada masa ketika saya bertanya-tanya, apakah Umi tidak terlalu baik kepada tamunya? Hingga kadang terasa perlakuan terhadap tamu lebih baik dibanding terhadap anaknya. Baru sekarang memahami, ah, anak memang perlakuannya berbeda. Harus tegas, kalau tidak saya tetap nakal hingga sekarang.
Berdirinya Partai Keadilan saat itu belum melonggarkan himpitan kesibukan orang tua yang terasa. Dakwah, dakwah, dakwah. Kapan waktu untuk keluarga?
Ada, sebenarnya. Dulu sebelum Partai Keadilan terbentuk, hingga beberapa tahun setelahnya, orang-orang yang berjalan di jalan dakwah ini senang mengumpulkan keluarga. Kami liburan bersama. Hampir setiap kami, anak-anaknya, liburan sekolah. Tentu saja lelaki dan perempuan dipisah. Suatu kali saya terbangun tengah malam di sebuah liburan di pegunungan. Saat itu saya keluar dan melihat barisan yang sedang berdiri berjama’ah. Ah, mereka sholat malam. Isak tangis terdengar lirih di mana-mana. Indah..
Bagi yang belum pernah merasakan, cobalah shalat malam di sudut kamar, gelapkan. Ungkapkan isi hati, penyesalan, dosa. Keluarkan tangis sesal, duka, harapan. Saat itu terasa betul Tuhan melangkah seribu kali lebih dekat..
Beberapa tahun setelah Partai Keadilan terbentuk, saat kadernya mulai bertambah, kesibukan dakwah itu mulai berkurang. Orang tua saya kemudian meluangkan waktu lebih banyak dengan keluarga. Tapi bagi saya, sedikit terlambat. Dalam hati saya merasa kesepian karena kecilnya peran orang tua saat saya masih kecil. Saya pun bertekad, tidak akan menjadi sesibuk mereka. Saya akan merawat dan dekat dengan anak-anak saya kelak. Saya akan membagi waktu antara kesibukan luar rumah dengan anak-anak saya. Sebagaimana saya ingin cinta yang lebih, saya ingin memberikan anak-anak saya nanti cinta yang lebih. Lebih lebih lebih banyak.
Kemudian saya menikmati hidup. Menjauh dari kegiatan PKS yang seringkali melingkar dengan orang-orang PKS sendiri. Bersenang-senang. Tertawa. Meskipun terkadang kekosongan itu terasa. Saya ingin bebas. Karena menjadi anak kader di lingkungan PKS, berarti tidak bisa menjadi diri saya yang saya inginkan. Akan selalu diasosiasikan dengan orang tua. “Ah, anaknya Ustadz X ya?” “Gimana kabar Umi?” Baik sih, kadang terlalu baik.
Kalau ada kegiatan, judul kolom absen bagi kami itu ada kolom khusus : nama orang tua.
Kekosongan itu lama-kelamaan semakin besar. Meskipun saya tertawa bersama teman, ada yang saya rindukan. Dan kini, ketika wadah jalan dakwah itu sedang dicaci maki.. Hati saya tergerak dan tersadar.
Ah, ini yang saya rindukan..
Kebersamaan dalam perjuangan. Kebersamaan dalam semangat. Kebersamaan dalam menyebarkan keindahan Islam. Kebersamaan yang mengikat orang-orang yang berada pada jalan dakwah ini menjadi satu jiwa. Ketika seujung kuku sakit, ujung rambut merasa. Hingga sakit itu kemudian dirasakan bersama.
Meskipun saya hingga saat ini tidak tercatat sebagai kader PKS di mana pun, saya tetap bergabung dalam sebuah lingkarang cinta. Di mana kami saling menyapa, mendo’akan, mengingatkan, berbagi kisah.
Hingga suatu saat lingkaran kecil saya menyetel video pengangkatan Ustadz Anis Matta. Bahkan saya pun menangis. Saya, satu-satunya orang yang tidak tercatat sebagai kader PKS di lingkaran cinta itu. Saya yang selama ini selalu berperang dengan ide, bahwa dakwah tidak harus di PKS!
Kemudian saya dengar seorang wartawan menanyakan kepada salah satu pengurus Partai Keadilan Sejahtera yang pada momen itu menangis. Kenapa menangis?
Ah, cinta.. Harus dijawab kah?
Kujawab pun kalian tiada mengerti. Karena belum kalian rasakan ruh-ruh yang saling diakrabkan oleh iman. Belum kalian rasakan persaudaraan melebihi sahabat yang tak perlu harus diungkapkan bagaimana rasanya. Tidak terlukiskan.
Hati ini menangis. Menjerit. Air mata ini terus meleleh. Karena hati ini merasakan sakit.
Sebuah keyakinan yang entah darimana datangnya.
Terbayang hari-hari di mana kami harus makan seadanya, sementara uang digunakan untuk membeli bensin membela dakwah. Ah, cinta..
Detik itulah saya sadar. Inilah jalan yang dicintai orang tua saya. Jalan yang dicintai sama besarnya dengan cinta terhadap anak-anaknya. Juga jalan yang diharapkan akan mempermudah anak-anaknya.
Orang tua saya dan teman-temannya termasuk orang-orang yang memperjuangkan diperbolehkannya jilbab & kerudung di negeri ini. Mereka termasuk orang-orang yang getol berjuang membela sesuatu yang saat itu bahkan belum tampak masa depannya. Usaha, usaha, usaha, dan keyakinan bahwa Allah akan menunjukkan hasil nantinya.
Maka saya katakan kepada orang yang kini terus mencaci maki jalan orang tua saya, dan insya Allah saya nantinya, makilah! Toh hanya mulutmu yang bisa kau gunakan. Uangmu habis untuk membesarkan perutmu saja. Makilah!
Inilah jalan yang banyak menghabiskan nyawa di antara tahun 1990-1997. Teringat sebuah majalah islami yang saya baca saat masih beranjak TK. Salah seorang muslimah yang turut berjuang di jalan ini mati dicekik hingga kehabisan napas ketika pulang dari berdakwah. Tidak untuk dirampok, karena hartanya masih ada. Tidak untuk dinistai, karena tubuhnya bersih. Dan tidak perlu ditanyakan kenapa lagi, karena banyak pejuang yang mengalami nasib serupa.. Makilah!
Di antara sekian politik kotor di negeri ini, tak bisakah mata mu melihat mana yang lebih jernih? Sungguh manusia tiada yang sempurna. Yang ada hanya insan yang senantiasa ingin menjadi lebih baik di setiap saatnya.
Maka di mana kah kamu saat ini? Di golongan memaki, atau golongan yang terus berupaya menciptakan Indonesia yang lebih baik? Karena sungguh orang yang mengerti kerja keras perubahan tidak akan mudah mengeluarkan celaan.


—————————————————

Semoga keberadaan akun (Kompasiana) ini tidak menjadi sebuah fitnah, karena hanya kebenaran yang ingin saya sampaikan melalui akun ini. Perwakilan isi hati saya atas apa yang saya rasakan ketika menjadi anak kader PKS. Dan sampai sekarang, hanya PKS yang ada di hati saya. Bismillah, do’akan saya menjadi anak yang lebih baik, hingga suatu saat dapat bergabung dalam barisan ini dengan rasa pantas.


*http://politik.kompasiana.com/2013/03/05/pks-sebuah-perjalanan-panjang-534297.html

About pkskabbogor

Check Also

Ibnu Qayyim , Berpolitik Gaya Imam Syafii

pksbogor.id — Ibnu Qayyim Al-Jauziyah cukup panjang membahas apakah politik bertentangan dengan syariat ? Pembahasan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *