Thursday , February 22 2018
Home / Artikel / Fikih Minoritas

Fikih Minoritas

       Oleh : Ustadz Abdul Ghani, M.Hum pksgunungsindur.org

muslims_pray_capitol
Fikih minoritas berawal dari kajian fikih yang berusaha memberikan solusi bagi masyarakat Muslim_yang menjadi minoritas_tinggal di negeri non-Muslim. Tokoh yang sangat populer sebagai penggagas fikih minoritas adalah Taha Jabir al-Alwani. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh semakin banyaknya jumlah umat Islam di negeri yang mayoritas adalah non-Muslim. 

Menurut Karen Armstrong jumlah umat Islam yang tinggal di Eropa antara 6 juta hingga 7 juta jiwa, dan kurang lebih separuhnya memang dilahirkan di benua tersebut. Adapun jumlah mesjid sebagai tempat ibadah umat Islam di Perancis dan Jerman pada kisaran 1000 mesjid, sementara di Inggris sekitar 500 mesjid. Menurut Syaifudin Zuhri, kebutuhan akan fikih minoritas dilatarbelakangi oleh semakin meningkatnya angka demografis masyarakat Muslim dan lembaga-lembaga Islam yang didirikan di negara-negara Barat. 

Tentu saja mereka harus berhadapan dengan persoalan-persoalan unik dalam mempraktekkan fikih. Persoalan yang tidak terjadi di negara-negara Muslim. Mereka harus berhadapan dengan persoalan bagaimana menerapkan syariat dalam konteks masyarakat Barat namun tetap terjaga kemasalahat mereka. Maka fikih minoritas menjadi jalan keluarnya.

Fikih minoritas merupakan perspektif ulama modernis dalam kerangka melahirkan fleksibilitas hukum Islam pada situasi dan kondisi tertentu. Walaupun para ulama terdahulu tidak memunculkan fikih minoritas, bukan berarti mereka menolaknya. Tidak adanya fikih minoritas pada masa lalu, bisa disebabkan oleh tidak adanya fenomena yang ada saat ini pada masa lalu. Fikih ini menjadi sangat penting bagi minoritas Muslim di negeri non-Muslim sehingga mereka dapat menjaga keimanan sekaligus kemaslahatan hidup mereka. 

Fikih ini menjadi solusi bagaimana agar seorang Muslim dapat memerankan dirinya, baik  sebagai seorang Muslim maupun sebagai warga negara yang baik. Di samping itu, fikih minoritas akan mengintegrasikan setiap Muslim dengan lingkungan sekitarnya, di negara manapun mereka tinggal. Maka seyogyanya seorang Muslim yang bertempat tinggal di negara yang mayoritas non-Muslim diberikan jalan untuk tidak berlebihan dalam menuntut kemunculan identitasnya sehingga terciptalah pembauran dan toleransi yang baik. 

Hal ini yang disebut oleh Jurgen Habermas sebagai toleransi timbal balik (reciprocal tolerance). Ketika mayoritas memberikan hak dan kesempatan kepada minoritas, maka minoritas menyadari betul kemudahan yang diberikan kelompok mayoritas.

Dengan demikian setidaknya ada 3 hal yang dapat dicapai melalui keberadaan fikih minoritas. Pertama, mempromosikan nilai-nilai universal Islam kepada komunitas non-Muslim. Kedua, memberikan perlindungan terhadap Muslim minoritas di negeri non-Muslim, termasuk melindungi identitas keislaman mereka. Ketiga, memberikan dukungan moral kepada mereka atas keadaan yang mereka tengah jalani sebagai kaum minoritas.

Dalam konteks Indonesia, adanya fikih minoritas dapat menjadi contoh bagaimana kelompok minoritas seharusnya menyikapi eksistensinya di Indonesia. Toleransi, seperti dikemukakan Habermas, pi juga membela mereka. Hal inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah ketika beliau melindungi hak-hak minoritas melalui piagam Madinah. Di dalam piagam tersebut, dengan jelas Nabi menunjukkan pembelaan bahwa setiap penyerangan terhadap orang kafir dhimmi sama dengan penyerangan yang dilakukan kepada Rasulullah. Hal ini pula yang menjadi ketertarikan orang-orang kafir kemudian untuk menerima Islam.

Sangat tidak logis jika keberhasilan ekspansi Islam dapat diwujudkan jika semata-mata karena kekuatan militer dan senjata. Jerald F. Dirk mengungkapkan bahwa ekspansi Islam berhasil diwujudkan lebih disebabkan oleh karena kepercayaan mereka terhadap Rasulullah dan sistem politik yang dibangun di Madinah. Setiap kali umat Islam melakukan ekspansi, mereka justru dibantu oleh orang-orang pribumi yang bangkit untuk melakukan revolusi terhadap pemimpin mereka sendiri yang kejam. 

Massa pribumi secara aktif membantu orang-orang Islam, dan Islam sendiri dipersepsikan sebagai agama pembebas yang akan menjamin terbentuknya pemerintahan yang adil dan tidak berpihak. Pada kasus  Kekaisaran Bizantium jelas terlihat, bahwa jizyah yang dikumpulkan pemerintah Muslim dari kelompok non-Muslim dipandang tidak membebani mereka karena jauh lebih kecil dibandingkan dengan pajak-pajak sebelumnya yang dituntut oleh pemerintah Kristen.

Dari ilustrasi di atas dapat disimpulkan bahwa Islam memiliki konsep yang komprehensif sebagai agama rahmatan lil alamin. Fikih minoritas di satu sisi adalah rahmat bagi umat Islam yang tinggal di negeri non-Muslim, di sisi lain fikih minoritas juga menjadi rahmat bagi negara non-Muslim bahwa umat Islam bukanlah ancaman bagi mereka. 

Fikih minoritas juga memberikan pesan agar non-Muslim di Indonesia menyadari eksistensinya sehingga umat Islam bukan hanya menerima kehadiran mereka akan tetapi juga melakukan pembelaan terhadap mereka. Semoga Allah menjadikan negeri ini baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang baik dan penuh ampunan Allah). 

About pkskabbogor

Check Also

Ibnu Qayyim , Berpolitik Gaya Imam Syafii

pksbogor.id — Ibnu Qayyim Al-Jauziyah cukup panjang membahas apakah politik bertentangan dengan syariat ? Pembahasan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *