Thursday , August 16 2018
Home / Artikel / KITAB DA` WAH INI

KITAB DA` WAH INI

KITAB DA` WAH INI
AL QUR`AN adalah kitab da`wah ini. Dia adalah ruhnya dan motivatornya; tiangnya dan eksistensinya; penjaganya dan pemeliharanya; penjelasnya dan jurubicaranya; undang-undangnya dan manhajnya. Dia adalah referensi yang menjadi tempat da`wah ini (begitu juga dai-dainya) menyimpulkan sarana dan prasarana amalnya, manhaj-manhaj pergerakannya, serta bekal perjalanannya.
Meski demikian, akan tetap ada kesenjangan yang lebar antara kita dan Al Qur`an selama kita belum membayangkan di benak kita dan menghadirkan di dalam visi kita bahwa Al Qur`an ini ditujukan kepada suatu umat yang hidup yang punya eksistensi hakiki; ditujukan untuk menghadapi peristiwa-peristiwa riil dalam kehidupan umat ini; dan untuk mengobarkan pertempuran besar di dalam jiwa manusia dan juga diatas muka bumi. Pertempuran yang bergolak dengan berbagai perkembangan, emosi, dan respons.
Meski demikian, akan tetap ada dinding pemisah yang tebal antara hati kita dan Al qur`an selagi kita membacanya atau mendengarkannya, seolah-olah ia hanya sebagai kumpulan bacaan- bacaan indah yang kosong dan tidak sedikit pun memiliki hubungan dengan realita-realita kehidupan kemanusiaan sehari-hari yang dihadapi oleh makhluk yang bernama manusia dan yang juga dihadapi oleh umat yang berjuluk umat Islam ini! Padahal sebenarnya ayat-ayat Al Qur`an ini diturunkn hanya untuk berdialog dengan jiwa, peristiwa, dan kejadian nyata yang mempunyai eksistensi riil dan hidup; dan sungguh ia benar-benar telah digunakan menghadapi jiwa, peristiwa dan kejadian tersebut dalam pola berhadap-hadapan yang riil dan hidup yang melahirkan suatu wujud yang punya beberapa ciri khas dalam kehidupan manusia secara umum dan kehidupan umat Islam secara khusus.
Kemu`jizatan Al Qur`an yang menonjol tersembunyi dalam kenyataan bahwa ia diturunkan untuk menghadapi realita tertentu dalam kehidupan umattertentu serta dalam fase tertentu dari fase-fase sejarah, dan ia, bersama umat ini, terlibat dalam pertempuran besar yang mengubah sejarahnya sendiri dan sejarah kemanusiaan semuanya. Walau demikian, ia masih tetap mampu bersanding dengan kehidupan serta kuasa mengarahkan kehidupan kekinian. Ia seakan-akan turun secara berangsur-angsur saat ini kepada umat Islam dalam menyelesaikan problem-problemnya; dalam persetueruannya melawan jahiliah disekitarnya; dan juga dalam peretempuranya dalam dirinya sendiri dan dalam alam batinnya, dengan semangat yang sama, dan juga dengan realita serupa yang dulu dimilikinya di sana pada waktu itu.
Agar kita ingin efektif memperoleh energi Al qur`an, mengetahui hakikat gelora yang tersembunyi di dalamnya, dan mendapatkan nasihat yang tersimpan untuk umat Islam di ssetiap generasi, sepatutnya kita menghadirkan di dalam visi kita tentang eksistensi generasi Islam pertama yang menjadi objek sasaran al Qur`an untuk pertama kali. Eksistensinya ketika mereka bergerak direalita kehidupan, tatkala mereka menghadapi beragam peristiwa di Madinah dan Jazirah Arab secara keseluruhan; pada saat mereka berinteraksi dengan musuh-musuhnya dan rekan-rekannya; dan ketika mereka berseteru dengan syahwat dan hawa nafsunya..Al Qur`an ketika itu teurun secara berangsur-angsur  untuk menghadapi semua hal tersebut dan menuntun langkah-langkah mereka di medan pertempuran besar; melawan musuh-musuhnya yang senantiasa mengintainya di Madinah, Mekkah, dan kota-kota sekitarnya, serta juga musuh-musuhnya yang lain.
Begitulah, kita memang mesti hidup dengan generasi pertama umat Islam; membayangkannya dalam kemanusiaanya yang sebenarnya, dalam kehidupan riilnya, dan dalam problem-problem kesehariannya . langkah demi langkah. Ketika ia terpeleset lalu bangkit, menyeleweng lalu tobat, lemah lalu melawan, kesakitan lalu bersabar, dan tatkal ia menaiki anak tangga satu persatu dengan pelan dan penuh keletihan, ketabahan dan perjuangan yang memperlihatkan semua ciri khas manusia.
Karean alasan diatas, kita merasa bahwa diri kita juga menjadi objek sasaran al Qur`an seperti generasi pertama umat ini dan bahwa kemanusiaan kita yang kita saksikan, kita ketahui, dan kita rasakan dengan seluruh karakternya punya kesiapan untuk merespons seruan al Qur`an  dan memanfaatkan tuntunannya di jalan yang sama.
Dengan cara pandang seperti ini, kita akan menyaksikan al qur`an hidup dan meberi pengaruh dalam kehidupan generasi pertama umat Islam, dan iapun akan mampu memberi pengaruh dalam kehidupan kita. Kita akan merasa bahwa ia bersama kita hari ini, juga hari esok. Dan kita juga akan tahu bahwa ia bukan hanya bacaan-bacaan yang dibaca secara tartil tanpa makna serta jauh dari realita kita yang tengah kita hadapi; bukan juga sebuah penggalan sejarah yang telah berlalu, selesai, serta terhenti pengaruh dan interaksinya dengan kehidupan manusia.
Sesungguhnya Al Qur`an adalah sebuah hakikat yang punya eksistensi permanen seperti semesta raya ini. Semesta raya adalah kitab Alloh yang terlihat, sedangkan Al Qur`an adalah Kitab Alloh yang dibaca. Keduanya sama-sam saksi dan bukti atas Pemiliknya yang menciptakan; kedua-duanya adalah dua eksistensi yang diciptakan untuk melakukan suatu pekerjaan. Semesta raya dengan seluruh peraturan yang mengikatnya selalu bergerak dan melaksanakan peran yang ditetapkan untuknya oleh Penciptanya; Matahari beredar digaris edarnya dan melaksanakan perannya; bulan, bumi, semua bintang dan planet, kesemuanya tidak tercegah oleh lamanya waktu untuk melaksanakan perannya di semesta raya ini.
Demikian juga Al Qur`an, ia memerankan  perannya untuk manusia. Ia tetap itu-itu juga, dan manusia juga tetap itu-itu juga. Ia tetap manusia dalam hakikat dan fitrahnya. Dan al Qur`an adalah firman Alloh untuk manusia ini. Firman yang tidak berubah, karena manusia juga tidak berubah menjadi makhluk lain, meski bagaimanapun perubahan situasi kondisi dan alam di sekitarnya, dan walau bagaimanapun keterpengaruhan dan keterkesanannya dalam situasi kondisi dan alam ini. Bagian dari manusia yang dijadikan Al Qur`an sebagai obyek sasaranya adalah keaslian fitrahnya dan keaslian hakikatnya yang sama sekali tidak berubah dan berganti; ia kuasa untuk mengarahkan hidupnya hari ini dan esok, sebab ia memang disiapkan untuk itu, karena ia adalah firman Alloh, dan karena tabiatnya adalah sama persis dengan tabiat semesta raya ini; tetap bergerak tanpa pernah diganti.
Karena itu perkataan menggelikan ketika sesorang misalnya, berkata tentang matahari seperti ini, “ ini planet kuno dan lapuk! Ia pantas diganti dengan planet yang baru dan modern!” atau seperti ini, “ Manusia ini makhluk kuno dan ketinggalan zaman! Ia layak diganti dengan makhluk baru dan modern untuk menyemarakkan bumi!
Apabila mengatakan yang ini dan yang itu termasuk perkataan yang lucu, maka lebih lucu lagi jika ia diberlakukan kepada Al Qur`an, Firman Alloh  untuk manusia. (Dr. Sayyid Qutub)

About pkskabbogor

Check Also

Ibnu Qayyim , Berpolitik Gaya Imam Syafii

pksbogor.id — Ibnu Qayyim Al-Jauziyah cukup panjang membahas apakah politik bertentangan dengan syariat ? Pembahasan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *