Wednesday , September 26 2018
Home / Artikel / Mengemudi Hati di Jalan Lurus

Mengemudi Hati di Jalan Lurus

  Disadur dari Tulisan
 “Ihdinash shirathal mustaqim.. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.”

http://aminbenahmed.blogspot.co.id/
Tidak sah shalat kita tanpa membaca Surah Al Fatihah di tiap raka’atnya. Dan dalam senarai 7 ayat terdahsyat ini, usai kita memuji Allah, memuliakan, dan mengagungkanNya, dengan tunduk kita menadah karuniaNya. Ialah doa kita agar Allah karuniakan petunjuk ke jalan yang lurus. Kita membacanya setiap hari sekurangnya tujuh belas kali, sebab ialah doa terpenting, permohonan terpokok, dan pinta paling utama.
Jalan yang lurus.
Terjemah itu mungkin membuat sebagian kita membayangkan bahwa jalan lurus itu bagus, halus, dan mulus. Kita mengira bahwa shirathal mustaqim adalah titian yang gangsar dan tempuhan yang lancar. Kita menganggap bahwa ia adalah jalan yang bebas hambatan dan tiada sesak, tanpa rintangan dan tiada onak. Kita menyangka bahwa di jalan itu, segala keinginan terkabul, setiap harapan mewujud, dan semua kemudahan dihamparkan.
Frasa ‘jalan yang lurus’ membuat kita mengharapkan jalur yang tanpa deru dan tanpa debu.
Maka kadang kita terlupa, bahwa penjelasan tentang jalan lurus itu tepat berada di ayat berikutnya. Jalan lurus itu adalah, “Jalan orang-orang yang telah Kauberi nikmat. Bukan jalan orang-orang yang Kaumurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.”
Maka membentanglah Al Quranul Karim sepanjang 113 surat bakda Al Fatihah untuk memaparkan bagi manusia jalan orang-orang yang telah diberi nikmat itu. Ialah jalan Adam dan Hawa; jalan Nuh, Hud, dan Shalih; jalan Ibrahim hingga Ya’qub sekeluarga; jalan Musa dan saudaranya; jalan Dawud dan putranya; jalan Ayyub dan Yunus; jalan Zakariyya dan Yahya, serta Maryam dan ‘Isa. Kisah jalan indah itu sesekali ditingkahi gambaran tentang jalan mereka yang dimurka dan sesat; jalan Iblis dan Fir’aun, Samiri dan Qarun, Bal’am dan Haman, hingga Ahli Kitab Yahudi-Nasrani dan Abdullah ibn Ubay ibn Salul.
Ceritera kehidupan adalah lapis-lapis keberkahan.
Kisah mereka berkelindan, mengulurkan makna-makna yang mengokohkan cipta, rasa, serta karsa Sang Rasul terakhir dan ummatnya yang bungsu. Kisah mereka bertautan, melahirkan artian-artian yang menguatkan iman dan perjuangan sang penutup rangkaian kenabian beserta para pengikutnya; menghadapi kekejaman Abu Jahl, kekejian Abu Lahab, keculasan Al ‘Ash ibn Wail, tuduhan Al Walid ibn Al Mughirah, dongengan An Nazhar ibn Harits, rayuan ‘Utbah ibn Rabi’ah, cambukan ‘Umayyah ibn Khalaf, hingga timpukan ‘Uqbah ibn Abi Mu’aith.
Maka Ya Allah, walau ilmu dan kebijaksanaan tak seutuh Luqman Al Hakim; tajamkan fikir dan rasa kami untuk mengambil ‘ibrah di setiap kejadian.
Maka Ya Allah, susurkan dan susulkan kami di jalan lurus, di lapis-lapis keberkahan.
***
Di lapis-lapis keberkahan, jalan lurus itu berkelok dan menikung, menanjak dan melongsor, membentang dan menghimpit. Di lapis-lapis keberkahan, jalan lurus itu curam dan terjal, deras dan gemuruh, keras dan runcing.
Di lapis-lapis keberkahan; tugas hidup kita adalah mengemudi hati menuju Allah di jalan yang lurus. Maka pangkal kelurusan itu pertama-tama adalah hati yang tak pernah berbelok dari Allah sebagai sesembahan yang haq. Lurus, sebab hanya pada Allah tunduknya, taatnya, dan tentramnya. Lurus, sebab hanya untuk Allah yakinnya, pasrahnya, dan kebajikannya. 
Lurus, sebab hanya bersama Allah gigil takutnya, gerisik harapnya, dan getar cintanya….

About pkskabbogor

Check Also

Ibnu Qayyim , Berpolitik Gaya Imam Syafii

pksbogor.id — Ibnu Qayyim Al-Jauziyah cukup panjang membahas apakah politik bertentangan dengan syariat ? Pembahasan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *