Home / Artikel / Perlukah Ujian Nasional Online ?
Ujian Nasional (google)
Ujian Nasional (google)

Perlukah Ujian Nasional Online ?

Dunia kini memang sudah serba daring. Bukan hanya alat elektronik yang dijual secara daring, ujian nasional pun dilaksanakan secara daring. Siswa SMA dalam dua hari terakhir mengikuti ujian nasional berbasis kertas dan secara daring. Sejak tahun lalu ujian nasional secara daring dilaksanakan, dan tahun ini pesertanya makin bertambah. Artinya cara ini cukup bisa diandalkan.

Serba online

Ditunjang oleh kebutuhan dan sarana yang makin tersedia. Ujian nasional secara daring kian diminati oleh sekolah dan para siswa. Pasalnya lebih praktis, aman dan cepat. Bayangkan mengoreksi soal ribuan lembar, dengan tuntutan akurasi yang tinggi, keamanan yang terjaga, lokasi yang terkadang sulit dijangkau. Pilihan menggunakan teknologi mutakhir menjadi keniscayaan.

Masalahnya apakah semua sekolah memiliki perangkat komputer, jaringan internet yang terjamin tidak kehilangan sinyal saat ujian, atau pasokan listrik yang cukup? Ini tantangannya. Belum lagi bagaimana melatih peserta ujian menggunakan komputer.

Lebih save?

Tiap tahun, selalu saja terdengar kebocoran soal ujian nasional. Baik oleh oknum guru maupun oleh pihak-pihak lain yang ingin “membantu” peserta ujian mendapat nilai dengan cara tidak terpuji. Berapa guru dan sekolah yang digrebek hanya gara-gara mengusahakan agar siswanya bisa mengerjakan ujian dengan baik.

Bahkan, aparat keamanan dikerahkan untuk mengawal naskah ujian dari pos pengambilan hingga ke sekolah. Bayangkan, suasana ujian sekolah dibuat mencekam seperti dalam suasana perang.

Dengan ujian nasional daring apakah masih membutuhkan pengawalan seperti itu? Tentu tidak membutuhkan aparat keamanan dengan senjata lengkap mengawal naskah soal ujian. Soal ujian disajikan secara daring, tidak bisa ditemui dimesin pencari kata, atau teknik penyimpanan awan yang kini dengan mudah diakses oleh siswa.

Guru atau sekolah juga tidak tahu hingga detik akhir ujian, soal seperti apa yang akan diujikan. Sehingga menyerahkan peserta didiknya pada komputer “penguji”. Dengan demikian, kemungkinan untuk “membantu” menjadi berkurang.

Apakah peserta didik mempunyai celah untuk menyontek jawaban dari peserta yang lain? Sangat mungkin terjadi, tetapi dengan penataan bangku yang tepat, hal ini bisa diminimalisir.

Lebih cepat?

Sebelum ujian nasional menggunakan komputer, hasil ujian berupa lembar jawaban yang kemudian dipindai oleh alat scanner yang berfungsi membaca pola jawaban kemudian diterjemahkan dalam formula tertentu. Hasilnya nilai ujian nasional sudah bisa langsung diketahui. Cara ini masih berlaku bagi peserta yang mengikuti ujian nasional menggunakan lembar kertas.

Ada ribuan yang mengikuti pola ini, tentu hasilnya bisa lebih cepat dibandingkan dengan koreksi manual oleh guru. Dan koreksi yang dilakukan oleh guru perlu ketelitian dan akurasi yang tinggi. Belum lagi waktu yang dibutuhkan untuk koreksi manual lebih lama dibandingkan menggunakan mesin pemindai.

Dengan menggunakan komputer, hasil ujian bisa langsung didapatkan oleh penyelenggara, tanpa harus bersusah payah melakukan pemindaian atau mengoreksi secara manual. Jadi banyak menghemat waktu, biaya, dan tenaga.

Lebih akurat?

Dua tahun lalu, kita dikejutkan oleh cara penghitungan hasil ujian nasional yang dirasa merugikan peserta ujian. Pasalnya hasil ujian mangalami konversi nilai, yang entah mengapa banyak siswa yang merasa mampu namun mendapatkan nilai ujian yang tidak semestinya. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Masalah akurasi memang menjadi kendala utama dalam proses penilaian hasil ujian nasional. Dengan ujian menggunakan komputer bahkan secara daring, maka masalah akurasi penilain bisa sedikit terselesaikan. Mengapa? Karena hasil ujian langsung diolah komputer tanpa menunggu jeda koreksi oleh pihak lain atau alat lain. Nah masalahnya tergantung pada integritas operator daringnya, apakah tetap konsisten dengan aturan atau mau bermain-main dengan nilai itu.

Jadi bukan hanya beli baju yang bisa daring, ujian pun tinggal klik, jawab, save , dapat nilai. Enak kan?

Bogor, 5 April 2016
eka wardana

#gurumenulis
#gurubelajar
#literasibogor_kagum

Tulisan ini juga bisa ditemui di:
komunitasgurupintar.wordpress.com

About Aden Rama

Check Also

cada7-2

Ketua DPC SeCada 7 Sah Di Lantik

Cabang Dakwah (Cada) 7 PKS Kabupaten Bogor, memulai gebrakannya. Cada 7 yang merupakan pemekaran dari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *