Thursday , September 21 2017
Home / Artikel / Renyahnya Egg Roll Jagung Desa
egg roll desa

Renyahnya Egg Roll Jagung Desa

IMG-20160411-WA0082

Bentuk dan warnanya tak jauh beda dengan egg roll merek terkenal yang banyak dijumpai di sejumlah super market. Namun teksturnya berbeda. Meski sama-sama renyah, namun tidak rapuh sehingga tidak mudah hancur.  Uniknya, egg roll yang diberi merek Desa itu terbuat dari sumber-sumber pangan lokal seperti jagung, ganyong dan talas.

Adalah Dewi Sartika yang mengubah bahan pangan lokal menjadi penganan berkelas dan disukai semua kalangan. Berangkat dari hobi lalu menjadi industri, itulah kisah usaha kue egg roll Desa yang diproduksi kelompok ibu-ibu di Taman Pagelaran, Ciomas Bogor. Inovasi Dewi bukan hanya menjadi sumber penghasilan tambahan bagi Ibu tiga anak tersebut, namun juga membuka lapangan kerja bagi banyak orang.

Industri rumahan yang dikembangkannya memproduksi lima jenis rasa egg roll sesuai bahannya yakni tepung jagung, ganyong, talas, mocaf dan kombinasi ganyong dan mocaf. Selain egg roll Dewi juga memproduksi stik mocaf, brownies jagung, snack bar.

Dewi mengaku memulai usahanya tahun 2013 silam. Awalnya Ia tertarik mengembangkan bisnis berbasis pangan lokal karena ingin berkontribusi pada upaya diversifikasi pangan yang dilakukan pemerintah. Tak tanggung-tanggung, pelanggan besar pertamanya adalah ibu-ibu yang tergabung dalam solidaritas Istri-Istri anggota Kabinet (SIKIB) pada Juni 2013. Anggota SIKIB banyak suka dan saat itu sebanyak 70 toples egg roll berbagai pun habis diborong.

Sejak saat itu, sarjana tata boga itu pun mulai kebanjiran pesanan karena banya yang suka dengan produk buatannya. Termasuk pesanan dari ibu-ibu dharma wanita Kementan. Egg roll Desa yang saat itu masih dikemas dalam toples berukuran 250 gram, dijadikan kue khusus untuk bingkisan lebaran.

“Saya menghabiskan 40 kg tepung untuk membuat 150 toples egg roll. Saya begadang karena mengerjakannya sendiri saat itu,” kenangnya.

Dewi pun memutuskan terjun ke industri olahan pangan lokal secara totalitas. Pekerjaannya di sebuah lembaga sosial pun Ia tinggalkan.

egg roll desa

Saat ini, Dewi mengaku produksi mencapai 2000 buah egg roll per bulan. Untuk memproduksi kue sebanak itu, Ia membutuhkan bahan baku tepung mocaf 150 kg, tepung talas 25 kg, tepung jagung 50 kg, tepung ganyong 25 kg.

Dibantu oleh tiga karyawan di bagian produksi dan seorang bagian distribusi, hasil inovasi Dewi sudah merambah pasar di berbagai daerah di Jawa Barat terutama di berbagai outlet kue khas Bogor.

Agar produknya lebih praktis sebagai buah tangan, Dewi pun mengganti kemasannya dengan kotak karton berisi egg roll 100 gram yang dibanderol Rp 15.000 per kotak (dus). Untuk menarik minat konsumen, Desa pun dilengkapi dengan keterangan angka kecukupan gizi. Berawal dari modal Rp 120 ribu, kini sebulan ia meraup omset sekitar Rp 20 juta.

“Jika kita serius, saya yakin prospek pasar sangat cerah,” ujarnya.

Menyehatkan

Secara terpisah, pakar pangan dari Balai Besar Pascapanen Kementerian Pertanian, Rudy Tjahjohutomo mengatakan, kandungan tepung ganyong kaya akan serat yang mampu melancarkan sistem pencernaan. Selain itu, tepung ganyong bersifat “gluten free” berdasarkan hasil uji di laboratorium.

Gluten merupakan salah satu substansi allergen yang banyak dijumpai di tepung terutama gandum. Oleh karenanya untuk pembeli yang alergi terhadap gluten pun aman untuk mengkonsumsi tepung ganyong. Tepung ganyong sangat mudah dicerna, bisa dipakai untuk makanan bayi, bahan kue ataupun makanan pokok

“Hasil riset menunjukkan, tepung ganyong juga bagus untuk anak autis,” lanjutnya.

Ke depan, menurut Rudy, perkembangan usaha berbasis pangan lokal olahan akan terus berkembang baik sebagai industri makanan fungsional maupun produk industri kreatif.

Tahun 2013 lalu, nilai pasar industri kreatif diperkirakan mencapai Rp 182,6. Triliun. Dengan berkembangnya industri kreatif berbahan baku pangan lokal yang memang jumlahnya melimpah di Indonesia, Rudy optimis industri kreatif berbasis pangan akan makin berkontribusi bagi perekonomian bangsa.

Lebih lanjut Rudy mengatakan, Indonesia harus meniru kesuksesan Jepang yang menjadikan makanan tradisional dan pangan lokal mereka menjadi komoditas ekspor yang menghasilkan devisa tinggi.

About Setia Lesmana

Check Also

hgn-pks-bogor-2016

Seruan PKS pada Hari Guru Nasional 2016

Hari Guru yang sejatinya diperingati di Indonesia setiap tanggal 25 November merupakan sebuah simbol dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *