Home / Artikel / Ayah Mulailah Dari 5 Menit

Ayah Mulailah Dari 5 Menit

Ada sebuah kebiasaan yang kumiliki dalam hidupku saat ini, yaitu meluangkan waktu minimal 5 menit untuk menulis. Harus ada 5 menit waktu yang aku sisihkan untuk menulis, walaupun itu hanya sebuah coretan kecil-kecil dalam kertas usang. Banyak sekali ide-ide menulis yang hilang karena tidak langsung diabadikan dalam bentuk tulisan.
Kebanyakan orang melewati momen-momen kehidupannya mungkin begitu saja ia lewatkan. Tidak ia rasakan, apalagi mengambil ibrah dan pelajaran dari momen yang terjadi. Momen itu antara ada dan tiada tidak memberikan pengaruh yang dalam. Sehingga sebenarnya momen itu kalau pun tidak hadir dalam hidupnya, tidak akan memberikan pengaruh banyak bagi perubahan dalam dirinya. Akan tetapi ketika kita mempunyai kekuatan dan semangat untuk menulis, maka momen-momen itu terkadang menjadi suatu yang indah yang dapat kita ambil banyak pelajaran darinya. Salah satu caranya adalah dengan menuangkan peristiwa momen tersebut dalam bentuk tulisan. Dari momen itu kita bidik makna terbaik apa yang dapat kita ambil ibrahnya. Dari momen itu dapat kita simpan pelajaran yang mungkin akan berguna dalam hidup kita. Dan dari momen itu kita dapat mengerti makna hidup yang paling baik yang perlu kita perjuangkan.

Terkadang 5 menit bagi setiap orang adalah sesuatu yang cepat terlewatkan, akan tetapi bagi penulis 5 menit terkadang merupakan turning point yang berarti dalam hidupnya. Karena dengan 5 menit itu seorang penulis dapat mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekelilingnya.
5 menit juga merupakan waktu yang tidak pendek untuk merubah suatu impian dan cara pandang. Terkadang ide-ide brilian muncul dalam waktu hitungan menit, bahkan detik. Penemuan-penemuan penting di dunia bahkan ada yang terjadi dalam hitungan detik dari sebuah kejadian atau fenomena. Dan ingat ketika kita shalat atau berdoa pun, tidak lebih dari hitungan 5 menit.
Dalam pendidikan anak, 5 menit juga merupakan nilai yang tiada harganya. Dalam sebuah cerita, ada seorang ibu yang mencoba menahan amarah ketika berhadapan dengan anak-anaknya. Ia mencoba untuk diam selama 5 menit untuk selalu memberikan respon positif, dan tidak banyak memotong atau menyela pembicaraan. 5 menit setiap hari dari 24 jam yang ia milikinya, ia pergunakan untuk mendengarkan keluhan dan kejadian yang menimpa anaknya di sekolah. Ia kuatkan keinginannya hanya untuk mendengar apa yang disampaikan oleh anak-anaknya. Ia tersenyum, membelakkan mata, tertawa, dan terkadang sedikit kata-kata sanjungan yang keluar dari mulutnya. Ia lebih banyak mempergunakan telingat dan matanya, sambil terkadang tersenyum di bibirnya. Sedangkan dari mulutnya tidak muncul kata-kata yang akan memotong pembicaraan anaknya. Ia beri kesempatana kepada anaknya yang sebesar-besarnya dalam waktu 5 menit, agar ia meluapkan segala perasaan dan keinginan yang dimilikinya. Dan akhirnya kata “Good Job, son” muncul diakhir 5 menit setelah anak-anaknya merasa cukup mengungkapkan segala isi hatinya. Segala unek-unek di dalam hati dan bathinnya.
Terkadang perlu, seorang ayah berhenti sejenak dalam kisah perjalanan hidupnya untuk lebih bijak dan memperhatikan anak-anaknya. Walau itu hanya sebuah waktu yang pendek semisal 5 menit. Berilah kebebasan dan kesempatan bagi anak-anaknya untuk menjadi raja yang perlu kita perhatikan sungguh-sungguh apa yang ia sampaikan. Tidak mungkin seorang ayah dalam waktu 24 jam miliknya akan mampu ia berikan semua kepada anak-anaknya. Akan tetapi bisa jadi dengan waktu 5 menit yang berkwalitas, akan lebih berharga daripada 24 jam waktu yang ayah miliki. Karena dalam waktu 5 menit tersebut ia jadikan waktu yang sangat berkwalitas. Berkwalitas bagi anak-anaknya, dan berkwalitas bagi sang ayah.
Bagi seorang ayah, waktu adalah nikmat. Alwaktu huwa nikmah. Waktu menjadi bagian dari nikmat yang dimilikinya. Waktu menjadi bagian teramat penting dalam hidupnya untuk menjadi seorang ayah yang bermakna bagi anak-anaknya. Kalau benar 5 menit adalah suatu yang teramat penting bagi anak-anak kita, maka kenapa tidak kita mulai dengan memperisiapkan 5 menit yang berkwalitas bagi mereka? (mye)
:: islamedia.co

About pkskabbogor

Check Also

Ibnu Qayyim , Berpolitik Gaya Imam Syafii

pksbogor.id — Ibnu Qayyim Al-Jauziyah cukup panjang membahas apakah politik bertentangan dengan syariat ? Pembahasan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *