Home / Tatsqif / "seandainya dosa memiliki bau…"

"seandainya dosa memiliki bau…"

ilustrasi

“Law kâna yûjadu li dz-dzunûbi rîhun mâ qadartum an tadnû minnî min natani rîhî”
“seandainya dosa memiliki bau, kalian tidak akan mampu berdekatan denganku karena busuknya bau dosaku.”  *)
Nasehat di atas tidak hanya menggetarkan sukma, tetapi lebih dari itu, bisa menderaikan airmata orang-orang bertakwa, dan juga para pendosa. Menderaikan airmata orang-orang bertakwa karena semua kemudahan mereka dalam beramal shalih adalah semata-mata karena karunia dan inayah Allah, terlebih semua keutamaan dan kelebihan yang mereka dapatkan seringkali melebihi dari amal-amal mereka. 
Pujian manusia kepada mereka acapkali melampaui amal-amal mereka, dan itu semua berkat rahmat Allah. Sekali lagi, itu adalah kemurahan hati Allah kepada hamba-hamba-Nya. 
Seandainya manusia mengetahui noktah-noktah dosa yang tersembunyi dalam hati mereka, mereka akan malu dengan tabir Allah yang selalu menutupi dosa hatinya, baik berupa peremehan hati terhadap hak-hak Allah atau kemalasan hati dalam menjawab panggilan-Nya. 
Tidak hanya menderaikan orang bertakwa, tetapi juga para pendosa karena terlalu sering Allah menutupi aib dan cacat hamba-hamba-Nya yang berbuat dosa dari pandangan manusia.
Fa bi ayyi âlâ’I Rabbikumâ tukadzdzibân. Sungguh, siapakah yang sanggup memikul dan menampakkan diri di hadapan manusia bila ternyata dosa itu benar-benar menimbulkan bau busuk dalam tubuh kita?. 
Allâhumma s-tur awrâtî wa âmin rawâtî wa h-fazhnî min bayni aydî wa min khalfî wa ‘an yamîni wa ‘an syimâlî wa min fawqî wa min tahtî wa ‘aûdzu bi ‘azhamatika an ughtâla min tahtî, amin.
Kekata, “Law kâna yûjadu li dz-dzunûbi rîhun mâ qadartum an tadnû minnî min natani rîhî, seandainya dosa memiliki bau, kalian tidak akan mampu berdekatan denganku karena busuknya bau dosaku.” pantasnya diucapkan oleh kita-kita, generasi akhir zaman yang bergelimang dosa dan maksiat, bukan oleh Muhammad bin Wasi’. 
Karena beliau adalah generasi tabi’in yang tidak hanya seorang mujahid, zuhud dan ahli ibadah tetapi juga termasuk orang yang doanya mustajab. Inilah ajaibnya; semakin tinggi ilmu seorang hamba, semakin tinggi kualitas iman dan takwa seorang hamba, maka –seyogianyalah- semakin tinggi pula rasa takutnya kepada Allah Ta’ala sehingga ia peka pahala, dan juga peka dosa.
Lantas, siapakah Muhammad bin Wasi’? beliau bernama lengkap Muhammad bin Jabir bin al Akhnas bin A’idz bin Kharijah bin Ziyad bin Syamsu al Azdi Abu Bakar al Bashri, atau biasa disebut Abu Abdillah al Bashri; lelaki yang pernah dipuji oleh al Ijli, “Beliau seorang abid, tsiqqah dan laki-laki shalih” dan juga disanjung oleh Musa bin Harun, “Beliau seorang abid, wara’, mulia, tsiqqah, alim dan banyak kebaikannya.” ini adalah murid sahabat utama Anas bin Malik al Anshari.
Beliau dikenal sebagai mujahid, zuhud, ahli ibadah, dan juga mustajab doanya. Beberapa kisah berikut menjadi fakta betapa fragmen hidup beliau akan senantiasa ditorehkan dengan tinta emas dalam sejarah peradaban Islam.
*) (Shifatus Shafwah : III/268 dalam Ensiklopedi Hikmah nomor 351 hlm. 214).
Dikutip dari http://www.oaseimani.com/muhammad-bin-wasi.html

About pkskabbogor

Check Also

Keutamaan Hari Jum'at Yang Penuh Berkah

Hari  Jum’at adalah sebaik-baiknya hari, walau semua hari adalah baik dan penuh keberakahan. Ini sepuluh …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *