Home / Artikel / Menghadapi Polemik dengan Sikap Ksatria

Menghadapi Polemik dengan Sikap Ksatria



By: Mr.K

Belakangan sebuah partai dakwah di-“geber” habis-habisan di media elektronik, portal berita hingga jejaring sosial populer. Perspektif masyarakat terhadap pemberitaan terkait korupsi pasti akan menuju pada sebuah “kesimpulan” yang mengarah pada dukungan media.

Kita sering mendengar “tidak mungkin ada api kalau tak ada asap” kan?, sehingga logis kalau masyarakat umum pada akhirnya mengambil inferensi/kesimpulan prematur bahwa kemungkinan adanya “noda” di partai dakwah (seperti tajuk populer di televisi swasta) itu benar adanya atau menuju kepastian yang 100%. 
Salahkah masyarakat?, kalau memang tidak, bagaimana kiranya menjawab tuduhan itu dengan cerdas, toh para pegiat dakwah memiliki hati yang menyatu di setiap keadaan. Pegiat dakwah itu tidak mungkin bisa larut terhadap pemberitaan publik dengan mudah, toh mereka memiliki media “tabayyun”, tempat melebur bersama saudara dalam forum halaqoh pekanan mereka hingga kegiatan-kegiatan yang bersikap mengasah soliditas, ke-tsiqohan (saling percaya) bernama mukhayyam (berkemah bersama para kader seluruh wilayah). Sehingga salah besar kalau pegiat dakwah dalam partai dakwah digoyang habis dengan berita dan polemik yang melandanya kini.

Jadi apa yang kita harus perbuat dengan adanya pengarahan opini besar-besaran ini?, kontribusi apa yang perlu kita berikan untuk dakwah jika terjadi masalah semacam ini?, diamkah kita?. Setelah berpikir sejenak penulis menemukan kisah abadi nan indah yang ditunjukkan oleh teladan sepanjang masa kita, Rasulullah saw. 

Cara beliau dalam menghadapi polemik adalah dengan ketegaran, buktinya dengan semakin Rasul diejek dan dihina bahkan para jamaah haji kala itu diperingatkan untuk tidak mendekati Rasul, namun yang terjadi mereka malah ingin tahu dan mendekati Rasulullah untuk memahami ajarannya. Setelahnya kita melihat bagaimana hasil dari baiat aqabah 1 dan 2. Di masa kontemporer kita juga melihat bahwa yang hak itu pasti akan menang, nyatanya semakin Islam dijadikan isu global untuk membentuk Islam-phobia, masyarakat Eropa (terutama Inggris) malah berangsur-angsur menjadikan Islam sebagai agama/keyakinan barunya.

Loh korelasinya apa dong dengan dakwah sebuah partai politik?, kita bukanlah ingin menyamakan jalan dakwah partai ini sebagai jalan satu-satunya menuju kemuliaan Islam, pun kita tidak pernah menganggap partai dakwah ini tidak memiliki noda, namun kita memiliki keyakinan utuh bahwa kita punya teladan dan kita meyakini seyakin-yakinnya bahwa inilah cara kita membantu agama-Nya. 

Bukankah para pemimpin partai dakwah ini selalu menekankan bahwa politik ini bukan tujuan hakiki karena kita bergerak dan bermimpi lebih jauh lagi, sebuah mimpi tegaknya Islam yang memiliki kemuliaan. Kemuliaan apa?, kemuliaan ilmu dunia (science), kemuliaan ilmu akhirat yang ditunjukkan dengan masyarakat yang madani (sebuah prototype akhlak terindah sepanjang masa di Madinah) dan kita pada akhirnya ingin mewujudkan kepemimpinan berbasis layanan, kita ingin mewujudkan pemimpin-pemimpin yang berkarakter pelayan; yang tidak tidur sebelum majikannya tidur lelap, yang berdoa dengan takzim untuk kemakmuran majikannya. Siapa majikan pemimpin-pemimpin Islam itu?, majikan mereka adalah masyarakat, ya masyarakat.

Jadi jangan bimbang, tapi terus berfikir tentang kontribusi untuk dakwah ini. Ibaratkan dakwah ini seperti gerbong, ia tidak mungkin terus berjalan kalau bahan bakarnya sering habis atau tersendat-sendat distribusinya. Dan yakinlah bahwa bahan bakar gerbong dakwah itu adalah kontribusi kita, kontribusi kita melalui taklim, pena, fikiran, ilmu, harta hingga jiwa kita.

Wallahua’lam.

:: http://pkstaiwan.org/menghadapi-polemik-dengan-sikap-ksatria/

About pkskabbogor

Check Also

Ibnu Qayyim , Berpolitik Gaya Imam Syafii

pksbogor.id — Ibnu Qayyim Al-Jauziyah cukup panjang membahas apakah politik bertentangan dengan syariat ? Pembahasan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *