Home / Artikel / Ibnu Qayyim , Berpolitik Gaya Imam Syafii
sumber: es.dreamstime.com
sumber: es.dreamstime.com

Ibnu Qayyim , Berpolitik Gaya Imam Syafii

sumber: es.dreamstime.com
sumber: es.dreamstime.com

pksbogor.id — Ibnu Qayyim Al-Jauziyah cukup panjang membahas apakah politik bertentangan dengan syariat ? Pembahasan ini dikaji dalam kitabnya yang berjudul Ath-Thoriq Al-Hukmiyyah di As-Siyasah Asy-Syar’iyyah.

Kitab ini banyak membahas berbagai metode Nabi dan Rasul, Sahabat dan ulama salaf dalam menyelesaikan berbagai kasus yang berkaitan dengan pribadi, rumah tangga, peradilan dan negara. Soal politik, pembahasannya dimulai dari bagaimana perspektif imam Syafii tentang politik ?

Imam Syafii berkata,”Tiada politik kecuali politik yang sesuai dengan tuntutan syari’at.”

Ibnu Qayyim sangat hati-hati memaknai definisi politik imam Syafii tersebut. Karena maknanya bisa menjadi dua.

Pertama, politik yang tak bertentangan dengan apa yang diucapkan oleh syara’, maka ini tafsiran yang benar menurut Ibnu Qayyim.

Dalam kitab Al-Funun, Ibnu Aqil menegaskan,”Politik yang memberikan maslahat kepada rakyat itu lebih dekat pada kebaikan, lebih jauh dari kerusakan, meski ia tidak ditetapkan Rasulullah saw dan tidak diturunkan oleh wahyu.”

Kedua, definisi politik yang salah adalah ,”Tiada politik kecuali politik yang dikatakan syara’.”

Bila definisi ini yang digunakan, menurut Ibnu Qayyim, berarti kita telah menyalahkan para sahabat terutama para  Khalifatur Rasyidin, padahal apa yang mereka lakukan tidak ditentang sedikit pun oleh pakar sunnah.

Ibnu Qayyim memberikan contoh beberapa tindakan Khalifatur Rasyidin seperti Utsman ra. yang membakar mushaf-mushaf demi menjaga kemaslahatan umat. Umar ra. yang membuang Nashar bin Hajjah.

Ibnu Qayyim pun melihat banyak yang tersandung dan salah dalam memahami politik. Sehingga politik dianggap sebuah kiprah yang mengabaikan batas hukum, menghilangkan hakikat bahkan mendorong pada kerusakan.

Kesalahan pemahaman politik yang lain adalah menganggap syariat teralu sempit untuk menjadi bingkai politik. Menganggap politik butuh aturan di luar syariat. Sehingga syariat dan politik dipisahkan.

Menurut Ibnu Qayyim, politik yang adil tidak bertentangan dengan syariat, bahkan bagian dari syariat. Politik yang adil merupakan perwujudan dari keadilan Allah dan Rasul-Nya. Inilah yang dipahami oleh mereka yang memahami syariat, namun tidak diketahui oleh mereka yang benar-benar bodoh.

Mengapa politik perlu bingkai syariat ?  Karena syariatlah yang paling paham tentang kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat. Syariatlah yang paling adil dari semua keadilan yang ada.

 

 

Nasrulloh Baksolahar

 

Referensi:
Ibnu Qayyim. 2014. “Buku Pintar Memutuskan Perkara”. Pustaka Al-Kautsar.

About saeful pks

Check Also

sosialisasi-4-pilar-di-jonggol-5des16

Sosialisasi 4 Pilar di Jonggol

pksbogor.id , Jonggol (5/12) — Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) TB. Soenmandjaja …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *